satunarasi

BerandaOpiniAncaman Kawasan Karst Dalam Penambangan Batu Gamping di Buton Tengah

Ancaman Kawasan Karst Dalam Penambangan Batu Gamping di Buton Tengah

Penulis : Ramad Arya Fitra, S.Pi., M.Si (Dosen USN Kolaka)

SATUNARASI.COM – Akhir-akhir ini kerisauan masyarakat khususnya masyarakat Desa yang menjadi lokasi Tambang Batu Gamping Buton Tengah mengalami peningkatan akibat dampak negatif yang akan timbul dari pembangunan tambang batu gamping.

Kondisi ini telah mencapai tingkat yang mencekam, dan ini akan terus berlanjut jika permasalahan ini tidak segera di selesaikan. Salah satu pabrik yang ramai diperbincangkan warga adalah pabrik batu gamping yang bertempat di Kecamatan Mawasangka Timur Kabupaten Buton Tengah.

Rencana kegiatan penambangan tersebut tentunya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan diantaranya penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan asli daerah, dan peningkatan sumber devisa negara.

Namun yang lebih penting dan utama adalah bagaimana dampak negatif dari adanya tambang batu gamping tersebut. Eksploitasi kawasan hutan secara berlebihan akan merusak berbagai potensi yang ada seperti kemiskinan keanekaragaman hayati pada kawasan setempat, rusaknya tatanan air (sumber air karst berkurang dan tercemar), hancurnya tanaman bernilai ekonomi tinggi, rusaknya obyek wisata alam gua dan karst, serta rusaknya sarana dan prasarana seperti jalan aspal.

Kawasan karst dengan tanah yang sangat tipis dan ekosistem karst yang berbukit dengan kelerengan yang tinggi juga memberikan potensi terhadap terjadinya erosi dan longsor yang besar, sehingga makin membuat turunnya produktivitas dan kualitas lahan.

Berdasarkan dampak negatif tersebut diatas maka sudah sewajarnya masyarakat mengetahui dampak dari adanya tambang batu gamping sebagaimana telah dijamin oleh negara. Bahwa pendidikan tentang lingkungan hidup telah tercantum dalam Undang undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pada pasal 70 ayat (1); masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluasluasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, ayat (2): Peran masyarakat dapat berupa:a. pengawasan sosial; b. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau, c. penyampaian informasi dan/atau laporan. Ayat (3) Peran masyarakat dilakukan untuk: a.meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; b. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; c.menumbuh kembangkan kemampuan dankepeloporan masyarakat; d. menumbuhkembangkan ketanggap segeraan masyarakatuntuk melakukan pengawasan sosial; dan e. mengembangkan dan menjaga budayadan kearifan lokal dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Yang menjadi pertanyaan kita sebagai masyarakat adalah sudah siapkah kita? Menerima dampak dari adanya tambang tersebut. Sementara berbagai riset telah dilakukan mengenai dampak yang timbul dari adanya kegiatan penambangan batu gamping dapat (1)menyebabkan pencemaran udara berupa pencemaran partikel debu dan gas karbon monoksida (CO), (2) dampak penambangan batu kapur tersebut adalah lingkungan menjadi tercemar dan masyarakat mengalmi ISPA cukup tinggi yang akan mengganggu aktifitas warga Desa Bungi dan Desa Laasori seperti pencemaran udara, debu-debu bertebaran di kawasan Desa akibat beroperasinya pabrik, juga limbah yang mencemari Laut.

Dalam Undang-undang nomor: 32 Tahun 2004 tentang perlindungan dan pengelolahan lingkungan hidup pasal 1 ayat 35 yang berbunyi izin lingkungan adalah izin yang di berikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib analisis dampak mengenai lingkungan (AMDAL).

Namun seperti yang telah kita ketahui masih banyak perusahaan tambang yang tidak memperhatikan peraturan-peraturan pemerintah pusat yang berdampak negatif pada warga setempat . Yang perlu masyarakat ketahui adalah penambangan batu gamping pada awal produksinya tidak meberikan dampak secara langsung , namun seiring berjalannya waktu telah ditemukan berbagai permasalahan, sebagaimana yang terjadi di daerah daerah di Indonesia yang menjadi daerah penambangan batu gamping.

Olehnya itu, penulis ingin menjadikan penambangan batu gamping sebagai bahan perhatian serta kajian kita bersama, masyarakat Buton Tengah pada umunnya dan terkhusus Pemerintah Buton Tengah . Pada kesempatan ini penulis akan memberikan informasi mengenai riset yang telah dilakukan terkait dengan dampak penambangan batu gamping sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Ir. Pramudji Ruswandono, M.Si menyatakan Kawasan Karst dapat mememenuhi kebutuhan air baku bagi 120.000 jiwa dan karst merupakan lokasi akuifer air yang baik, berpengaruh langsung bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Konsep epikarst dikatakan bahwa lapisan batu gamping yang ada di dekat permukaan karst memiliki kemampuan menyimpan air dalam kurun waktu yang lama. Menurut risetnya“Kekayaan air bawah tanah pasti akan terancam, karena penambangan yang terus dilakukan.

Selain itu Alexander Klimchouk (2003) dalam penelitiannya ditemukan bahwa zona di dekat permukaan karst merupakan zona utama pengisi sistem (hidrologi) karst melalui proses infiltrasi diffuse dan aliran celah (fissure flow). Dari tipe aliran air pada celah vertikal, Chernyshev (1983), memperkirakan bahwa zona epikarst terletak pada kedalaman 30 – 50 meter di bawah permukaan karst dengan ketebalan bervariasi, biasanya 10-15 meter dari permukaan.

Penambangan di kawasan karst selain merubah perilaku sungai bawah tanah, juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan empat instalasi pemanfaatan sungai bawah tanah untuk pemenuhan air baku masyarakat.

Selain dampak ekologi kita ketahui bersama bahwa Kabupaten Buton Tengah adalah salah satu daerah wisata seribu Goa yang mana ini jika penambangan berlanjut maka akan berdampak bagi sektor pariwisata. Dalam beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa dampak penambangan di pegunungan karst akan mengancam kelestarian kualitas air dan kehidupan yang ada di dalamnya.

Olehnya itu, jika penambangan batu gamping tetap dilakukan maka yang terjadi adalah goa-goa tersebut bisa saja menjadi kering, yang mana air gua terkenal akan kejernihannya sebagai obyek wisata, selain itu juga dapat dijadikan sumber air minum bagi warga masyarakat Kabupaten Buton Tengah. Olehnya itu penulis berharap pemerintah Kabupaten Buton Tengah mengeluarkan surat penghentian penambangan batu gamping dan menjadikan kawasan karts di desa Gundu-gundu dan desa lainya terkena dampak menjadi kawasan di Lindungi sebagai dasar dampak yang telah dijelaskan di atas.

Sebagai penutup, penulis memberikan rekomendasi yang akan menjadi bahan petimbangan pemda Buton tengah selaku daerah yang bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan dengan adanya tambang tersebut yaitu membuat peraturan daerah untuk melindungi kawan karts sebagai kawan lindung, dimana telah ada payung hukum yang mengaturnya, yaitu UU No.32 Tahun 2009 tersebut menggariskan bahwa:“perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”.

Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) menjelaskan bahwa bentang alam karst termasuk dalam kawasan cagar alam geologi, oleh karena itu dapat disebut kawasan lindung geologi. Jangan sampai Buton tengah dijadikan daerah wisata Goa Raksasa yang penuh dengan limbah kaum yang tidak bertangung jawab. (adm)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com