satunarasi

BerandaButon TengahHanya Dua Sumber PAD Sektor Pariwisata Buteng, Tahun 2021 Anjlok

Hanya Dua Sumber PAD Sektor Pariwisata Buteng, Tahun 2021 Anjlok

BUTON TENGAH, SATUNARASI.COM – Potensi pariwisata Kabupaten Buton Tengah (Buteng) Sulawesi Tenggara (Sultra) sangat melimpah. Tak heran jika Buteng dijuluki sebagai daerah seribu goa. Anehnya, hingga kini hanya dua sumber pendapatan daerah (PAD) dari sektor pariwisata dan tahun 2021 PAD anjlok.

Kepala Dinas Pariwisata Buteng, Wujuddin menjelaskan bahwa capaian PAD untuk sektor pariwisata tahun 2019 senilai Rp 42 juta. Sedangkan tahun 2020 mulai adanya pandemi, tetapi pihaknya mampu menikatkan jauh dari sebelumnya, karena PAD naik menjadi Rp 137 juta. Anehnya, pada tahun 2021 terjadi penurunan PAD tinggal Rp 119 juta.

“Turunnya PAD tahun 2021 itu karena adanya kejadian viral yaitu joget di pantai mutiara saat ketatnya pemberlakuan protokol kesehatan musim pandemi. Sehingga pantai Mutiara sempat tutup, jadi itu berdampak. Restribusi yang kita lakukan telah didasari dengan Peraturan Daerah (Perda) nomor 1 tahun 2016,” jelas Wujuddin kepada satunarasi.com, Selasa (25/01/2022).

Anehnya, banyaknya potensi wisata yang kerap dikunjungi masyarakat dari berbegai daerah, ternyata hanya pantai Mutiara dan Goa Maobu yang dikelola daerah sebagai sumber PAD. Sedangkan tempat wista lainnya kata Wujuddin di kelola oleh desa karena pengembangannya berasal dari dana desa.

“Jadi pengelolaan dan restribusinya masuk di desa masing-masing. Sebenarnya pantai Katembe juga akan masuk dalam retribusi daerah, tapi lahannya masih bermasalah. Jadi sumber PAD pariwisata hanya dua itu, pantai Katembe dan Maobu. Tahun 2022 ini, kita upayakan wisata Tanjung Buaya juga akan dimulai pemberlakuan retribusi,” kata mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Buteng itu.

Sesuai Perda, lanjut Wujuddin besaran retribusi yakni Rp 3.000 untuk orang dewasa, anak Rp 2.000. Sedangkan untuk motor Rp 5.000 dan karcis mobil Rp 10.000. Guna mendongkrak PAD dari sektor pariwisara kedepannya, Ia menilai perlu dilakukan revisi Perda agar terjadi penyesuaian.
Pasalnya, dalam perda yang diatur hanya retribusi masuk, tetapi tidak ada retribusi penggunaan fasilitas. Selain itu, usia perda diakui sudah cukup lama sekira 6 tahun berlaku, karena revisi dapat dilakukan per 3 tahun.

“Jadi perda sudah waktunya untuk kita tinjau ulang karena harus menyesuaikan dengan kebutuhan pariwisata. Jadi jenis retribusi juga kita harus kembangkan seperti retribusi fasilitas. Kita harus siapkan perahu, atau banana boat, plan boat, bisa juga WC nya (water closet). Supaya kita bisa manfaatkan itu sebagai sumber PAD. Makanya harus dilakukan penyesuaikan Perda,” tutupnya. (adm)

Penulis : Basyarun

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com