satunarasi

BerandaButon SelatanDemi Berantas Pungli, Dishub Sultra Dorong Proses Hukum Penganiaya Pelabuhan Amolengo

Demi Berantas Pungli, Dishub Sultra Dorong Proses Hukum Penganiaya Pelabuhan Amolengo

KENDARI, SATUNARASI.COM – Video viral penganiayaan yang terjadi di pelabuhan penyeberangan Amolengo – Labuan Desa Langgapulu Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Sulawesi Tenggara (Sultra) tampaknya bakal berbuntut panjang. Demi memberantas pungli dan premanisme di kawasan pelabuhan, proses hukum akan ditempuh oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Sultra.

Plt. Kepala Dinas Perhubungan Sultra, Muhammad Rajulan, ST., M.Si menjelaskan, kejadian penganiayaan pada Rabu (24/11/2021) lalu di pelabuhan Amolengo dengan nama pelaku Firman alias La imbo (34) kepada korban Abidin (48) akan tetap dilanjutkan pada proses hukum. Itu sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam pemberantasan pungli di wilayah pelabuhan.

“Dengan peristiwa pemukulan di pelabuhan Amolengo itu, kami sangat tegas apapun yang namanya pungli dan dilandasi praktek premanisme, tidak bisa ditolerir. Inilah tugas kita bersama untuk membasmi. Jadi laporan itu kami sudah lakukan, tadi sudah perintahkan Kepala UPTD Amolengo-Labuan untuk melaporkan itu ke Polres Konsel,” kata Rajulan kepada satunarasi.com saat ditemui di Kota Kendari, Kamis malam (9/12/2021).

Ketgam : Tangkapan layar video viral yang tersebar di media sosial saat pelaku bernama Firman alias La imbo (34) saat menganiaya korban Abidin (48) di pelabuhan Amolengo Konsel

Mantan Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Buton ini menegaskan, pihaknya merasa terganggu dengan adanya kejadian dalam wilayah kerja Dinas Perhubungan. Proses hukum ditempuh sebagai kebijakan jangka pendek agar ada efek jera bagi pelaku demi menghilangkan pungli.

“Ini hal yang tidak bisa didiamkan dan dibiarkan karena akan menjadi preseden buruk dalam hal pelayanan. Padahal kita telah berupaya untuk memberikan pelayanan baik kepada masyarakat dengan memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pengguna trasportasi laut, utamanya di pelabuhan penyeberangan dimanapun di Sultra terkhusus Amolengo- Labuan,” tegasnya.

Masih kata Rajulan bahwa perintah laporan yang dilayangkan oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Amolengo-Labuan sebagai bentuk tanggungjawab pengelola pelabuhan. Pasalnya, pihaknya berharap pada korban dapat melaporkan ke pihak berwajib, karena aparat kepolisian tidak bisa bertindak tanpa aduan. Namun tetap memaklumi karena korban bermukim jauh yakni di Kabupaten Buton Selatan (Busel). Sebab, laporan harus di wilayah hukum tempat kejadian Polres Konawe Selatan.

“Makanya itulah awalnya korban ini memilih berdamai. Jadi kalau korban tidak melapor, ya kami yang melapor karena sebagai pengelola tidak bisa biarkan ini. Kami wajar melaporkan ketidak nyamanan tersebut dan kami sudah meminta korban untuk siap menjadi saksi,” jelasnya lagi.

Rajulan mengaku telah melakukan koordinasi dengan korban, termasuk Dinas Pendidikan Sultra dan Dinas Pendidikan Busel karena Abidin merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas sebagai pengawas di salah satu sekolah di Busel.

“Korban Abidin dan pihak Dinas terkait semua mendukung untuk menuntaskan perkara ini ke proses hukum,” tutur Rajulan juga mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Buton itu.

Kini pelabuhan Amolengo-Labuan telah dijaga ketat aparat kepolisian. Rajulan mengaku telah turun lapangan untuk memastikan kondisi
tersebut. Pasca kejadian Dishub Sultra bersama Polda Sultra dan Polres Konsel telah menggelar rapat agar sama-sama mengantisipasi pungli jangan lagi terjadi.

“Makanya telah dibentuk tim lapangan yakni tim Buser dari Polda dan dibantu Polres sedang memburu pelaku penganiayan. Karena ada dugaan melarikan diri termasuk di pelabuhan itu sudah tidak ada lagi preman, pada melarikan diri semua,” pungkasnya.

Sebelumnya, kronologis kejadian yang dirilis Polres Konsel bahwa pada saat korban bersama tiga orang keluarganya hendak menyebrang ke wilayah Labuan melalui jalur penyebrangan Fery Amolengu-Labuan tepatnya di pintu masuk areal pelabuhan ditahan oleh Firman dan meminta uang untuk makan kepada Korban yang sedang berada di atas mobil miliknya.

Kemudian korban memberikan uang sejumlah Rp 20.000 dan setelah masuk ke areal parkir pelabuhan salah satu keluarga korban bertanya kepada korban yang mengatakan bahwa “kenapa dikasih itu uang mereka itu artinya pungli, laporkan saja ke pihak Provinsi” dan pada saat mengatakan hal tersebut didengar oleh salah satu rekan Firman yang berada didekat korban sehingga info tersebut di sampaikan ke Firman dan Firman merasa tersinggung telah menerima uang dari Korban sejumlah Rp 20.000.

Lalu Pelaku Firman bersama dengan rekan-rekannya yang berjumlah sekitar 6 orang kemudian mencari korban di areal parkir pelabuhan dan pelaku langsung memegang kera baju milik korban sambil berkata ambil uangmu kembali jangan telepon orang provinsi, sehingga terjadi aksi kejar kejaran yang disertai perkelahian antara kedua belah pihak yang mengakibatkan korban mengalami luka cakar pada tangan memar pada leher. (adm)

Penulis : Basyarun

RELATED ARTICLES

1 KOMENTAR

  1. dari awal terbukanya pelayanan labuan amolengo,,, bibit2 premannisme, calo dan pungli sudah terbentuk,,, bahkan calo dan punglinya tidak ragu2 untuk muncul di dwpan umum, bayangkan saja, saya pernah terlambat sampai di pelabuhan,, z di tawarin oleh calo, harga tiket yang sampai 3 kali lipat untuk bisa langsung kasih masuk mobil dan berada barisan paling depan, agar kebagian untuk masuk ke kapal, padahal antrian mobil sebelumnya sudah sangat padat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com