satunarasi

BerandaButon TengahMasalah Air Bersih Madongka Terkesan Dilimpahkan ke Desa dan Bupati Buteng Sempat...

Masalah Air Bersih Madongka Terkesan Dilimpahkan ke Desa dan Bupati Buteng Sempat Bahas, Muh Jufar : Saya Siap Tadah Leher

BUTON TENGAH, SATUNARASI.COM – Masalah tidak dimanfaatkan proyek air bersih Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah (Buteng) Sulawesi Tenggara terkesan kesalahan dilimpahkan pada Pemerintah Desa Madongka. Bahkan Bupati Buteng, H. Samahuddin, SE pernah membahas persoalan ini.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Buteng, Muh Jufar, S.Pd menjelaskan bahwa dalam pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) harus dibentuk kelompok pengelolah sistem penyediaan air minum dan sanitasi (Kapespam). Itu menurunya menjadi tanggungjawab Pemerintah Desa Madongka agar program air bersih dapat berjalan.

“Kalau tidak termanfaatkan itu benar. Itu ketika berganti kebijakan, masih ada mantan pengelola Pansimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) mereka menangis ada La Taudi, ada mantan Kades yang lama. Kades yang baru namanya Arianto tidak mau urus air bersih itu alasannya katanya bukan asetnya dia. Sampai saya berikan seribu solusi bagaimana caranya, masih ada rekamannya sampai hari ini,” kata Muh Jufar kepada satunarasi.com saat dikonfirmasi melalui telepon sululernya.

Bahkan Muh Jufar mengaku jika proyek air bersih Madongka bukan dia yang kelola secara baik, sangat rawan mendapat masalah hukum.

“Saya bukan puji diri kalau bukan saya kepala bidangnya pekerjaan Madongka itu semua orang masuk penjara, saya kasitau memang. Betul ini bicara teknis. Jadi saya tidak salahkan bapak untuk bertanya,” bebernya.

Lalu tidak dimanfaatkan, apakah itu karena kesalahan pemerintah Desa atau siapa? Jufar menjawab bahwa tidak ada kesalahan. Menurutnya, desa tidak bisa disalahkan kalau masyarakatnya tidak mau punya air bersih.

“Tapi kalau dicarikan bahwa ada masalah, saya mau taruhan siapa yang mahu cari-carikan masalah itu. Jadi PU itu sudah selesai dia karena itu barang jalan mulai Desember 2018 sampai bulan maret 2020, jadi dipakai. Tapi ketika awal meret 2020 itu awal covid saya datangi kepala desa, silahkan lanjutkan bentuk kapespam nanti saya bantu tuntun bapak (kades) bagaimana caranya dan ingat itu pompanya kena petir dan itukan tidak bisa dihindari dari spamnya kita di Buteng karena setiap tahun itu petir sudah pasti,” pungkas Jufar.

Lebih tegas Jufar mengatakan upaya pemerintah daerah agar air bersih itu telah maksimal. Namun, dengan adanya pergantian Kades Madongka dengan berbagai alasan program air bersih itu terhenti.

“Apa alasan dia (kades), ih bukan asetku. Loh, Ia memang aset itu hanya masalah sistem penganggaran, artinya Pak Desa ini ujungnya dia berdebat tidak jelas, jadi saya hanya kasitau pak desa, pemerintah daerah itu hanya membangun kamu orang yang manfaatkan, kalau ada hasilnya silahkan ambil,” ungkap Jufar dengan nada tinggi.

Kendati demikian, dengan adanya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Buteng Ia mengaku bersyukur karena harus diserahkan ke PDAM pengelolaannya karena sebagai Kapespam. Namun penyerahan itu menjadi kewenangan pihak aset Pemda Buteng.

“Adanya PDAM Buteng alhamdulillah itu barang kita harus serahkan. Jadi aset itu kita sudah masukan dan dorong semua dokumen-dokumen ke PDAM. Jadi barang itu tinggal PDAM sekarang, dia mau ambil atau tidak. Mau bongkar itu barang bawa ke darat terserah dia,” kesalnya.

Masalah kerusakan pompa mesin, kebocoran pipa dan terputusnya KWH listrik PLN serta tidak mengalirnya air bersih Madongka karena tidak terbentuknya Kapespam, Muh Jufar mengaku bingsung dalam penyelesaian masalahnya.

“Jadi kita bingung Madongka ini mau diapakan itu air, kalau memang pak desanya sudah tidak mau lagi supaya kita pindahkan. Itu barang kalau dipindahkan tinggal pak Bupati kasi turun pemeliharaan, kan masih pemeliharaan, turun pemeliharaan kita angkat ulang kita pindahkan, kan selesai,” harapnya.

Jufar mengaku bahkan pernah dipanggil langsung Bupati Buteng, Samahuddin untuk membahas duduk persoalan ini. Namun sebagai Kepala Bidang yang bertanggungjawab dalam proyek air bersih ini, telah memberikan penjelasan.

“Jadi sebetulnya itu pak Bupati sudah pernah panggil. Saya sampaikan, pak Bupati tidak usah bicarakan itu, barang itu kita aman. Saya siap tadah leher saya, tidak ada masalah itu,” pungkasnya.

Proyek air bersih Madongka menelan dana hingga Rp 3,5 miliar di dalamnya sudah termasuk perencanaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018. Dengan jumlah anggaran itu, dikerjakan dengan jarak pengaliran 24 km.

Tender proyek ini dikerjakan CV. AIS yang kala itu Kadis PUPR Buteng informasinya masih dijabat oleh  Ir. Maynu yang kini menjadi Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Buton Tengah. (adm)

Penulis : Basyarun

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com