satunarasi

BerandaBaubauPrediksi Penawar Tertinggi Bakal Jadi Pemenang Mega Proyek Jalan Lingkar Kota Baubau

Prediksi Penawar Tertinggi Bakal Jadi Pemenang Mega Proyek Jalan Lingkar Kota Baubau

BAUBAU, SATUNARASI.COM – Sesuai jadwal pengunduran dari Lembaga Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), hari ini 4 November akan diketahui pemenang tender mega proyek jalan lingkar Kota Baubau. Muncul prediksi, sejumlah perusahaan dengan penawar tertinggi dapat menjadi pemenang.

Sesuai informasi yang dihimpun satunarasi.com, empat paket pekerjaan jalan lingkar kota Baubau yakni untuk peningkatan jalan lingkar ruas waborobo-Batupopi, prediksi akan dimenangkan oleh PT. Putra Nanggroe Aceh atau PT Mahardika Permata mandiri. Indikasinya, beda perusahaan, tapi satu pengusaha yang gunakan.

Sementara pekerjaan Bukit Asri-Batupopi, prediksi akan dimenangkan oleh PT Meutia Segar. Pekerjaan Sorawolio-Bukit Asri, prediksi dimenangkan oleh PT. Merah Putih Alam Lestari. Pekerjaan Sorawolio tahap IV, prediksi dimenangkan PT. Garungga Cipta Pratama (LO) atau PT. Putra Nanggroe Aceh.

[read more]

Terkait prediksi itu, kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Baubau, Andi Hamzah yang dikonfirmasi via Watshapp, Rabu (03/11/2021) belum dapat merespon.

Sementara, kabag Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Kota Baubau, Drs Ahmad Basri MSi yang dikonfirmasi via Handphonenya, Rabu (03/11/2021) terkait prediksi itu, menanggapi santai.

“Siapa yg prediksi? Orang yg prediksi ini hebat skali, sy saja tdk pernah bisa prediksi hal2 spt ini, krn ini proses lelang terbuka, yg keputusannya harus ada landasan aturannya, itu saja konfirmasi dari saya,trims,” jawabnya melalui Whatshap.

Diketahui, Pemerintah Kota Baubau melalui Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) telah melakukan lelang pekerjaan. Empat pekerjaan yang dimaksud, yakni :

1. Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Waborobo-Batupoopi dengan Pagu Anggaran Rp 41.660.803.880.
2. Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Bukit Asri-Batupoopi dengan Pagu Anggaran Rp 40.423.956.090.
3. Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Sorawolio-Bukit Asri dengan Pagu Anggaran Rp 40.044.499.770.
4. Peningkatan Jalan Lingkar Ruas Bungi-Sorawolio tahap IV dengan Pagu Anggaran Rp 43.935.903.386.

Untuk pekerjaan Peningkatan Jalan Lingkar Ruas Bungi – Sorawolio Tahap IV, sebanyak 46 perusahaan ikut mendaftar. Dari jumlah itu, hanya 4 perusahaan yang memasukkan penawaran. Di urutan pertama, PT Meutia Segar dengan nilai penawaran Rp. 35.118.139.892,38. Urutan dua PT. Rajasa Tomax Globalindo, nilai penawaran Rp 35.121.463.600,70. Urut tiga, PT Putra Nanggroe Aceh dengan nilai penawaran Rp. 39.908.888.000,00. Urutan empat, PT Garugga Cipta Pratama, nilai penawaran Rp 40.914.746.253,20.

Untuk proyek Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Bukit Asri – Batu Popi, ada 42 pendaftar. Yang memasukkan penawaran hanya tiga perusahaan, dimana PT. Cikools Ara Prima menjadi penawar terendah, yakni Rp. 33.409.039.670,97. Menyusul PT. Putra Nanggroe Aceh, nilai penawaran Rp. 33.816.805.000,00 lalu PT. Meutia Segar dengan nilai penawaran Rp. 39.660.263.441,35.

Pada paket pekerjaan Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Sorawolio – Bukit Asri, tercatat 42 peminat. Namun, yang memasukkan penawaran hanya 5 perusahaan. Masing-masing PT. Putra Nanggroe Aceh dengan nilai penawaran terendah Rp 32.816.000.000,00. Lalu PT. Dian Perdana Karsa dengan nilai penawaran Rp. 33.930.528.051,01, PT Fatdeco Tama Waja Rp. 34.430.655.848,17, PT Adta Surya Prima Rp. 35.915.747.103,71 dan PT Merah Putih Alam Lestari Rp. 38.485.366.786,34.

Sementara pada paket proyek Pembangunan Jalan Lingkar Ruas 2 Waborobo – Batu Popi, terdapat 41 peminat. Yang memasukkan penawaran hanya dua perusahaan, masing-masing PT. Putra Nanggroe Aceh Rp. 34.930.999.000,00 dan PT Mahardika Permata mandiri Rp. 40.582.485.743,71.

Sebelumnya, praktisi hukum kota Baubau, Herdiman SH menghimbau pemerintah Kota Baubau, dalam hal ini panitia lelang agar selektif, profesional dan independen menjalankan tugas sesuai mekanisme berdasar pada ketentuan perundang-undangan.

“Untuk menjadi pantia lelang itu tidak sembarang. Mereka (panitia lelang) punya sertifikasi, sehingga kerja-kerja yang dilakukan harus profesional sesuai dengan sertifikasi yang didapat, dengan menghindari intervensi pemangku kebijakan,” beber Herdiman.

Ditambahkan Herdiman, yang perlu juga menjadi pertimbangan adalah terjadinya monopoli pekerjaan yang berdampak pada persaingan usaha tidak sehat. Ketika muncul persaingan tidak sehat, patut diduga terjadi potensi persengkokolan. Hal itu merujuk pada Undang-undang Cipta Kerja.

Herdiman mencontohkan indikasi permainan yang bisa saja dilakukan, misalnya persekongkolan pada saat evaluasi dan penetapan pemenang tender/lelang, meliputi jumlah peserta tender yang lebih sedikit dari jumlah peserta tender dari lelang sebelumnya. Kemudian harga yang dimenangkan jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari harga tender sebelumnya, oleh perusahaan atau pelaku usaha yang sama.

“Ada banyak modus dalam hal monopoli pekerjaan. Ada persekongkolan sesama peserta tender, ada juga yang memasukkan penawaran dalam pekerjaan yang sama, dengan menggunakan perusahaan berbeda, tetapi satu pengusaha,” jelas Herdiman.

Pria yang juga mantan aktivis Kota Baubau ini menambahkan, selain hal-hal yang telah dijelaskan diatas, modus permainan lainnya yaitu, ada indikasi selisih harga yang diajukan pemenang tender dengan harga penawaran peserta lainnya, dengan alasan tidak wajar atau tidak dapat dijelaskan.

Herdiman mewarning Pokja agar konsisten terhadap metode pengadaan sebagaimana yang tertuang dalam berita LPSE Kota Bauubau, yaitu menggunakan harga penawaran terendah dengan sistem gugur. Tentunya dengan pertimbangan penawar terendah mempunyai kualisfikasi perusahaan yang memenuhi syarat baik secara teknis, adminstrasi dan biaya.

“Dengan sistem penawar terendah itu, negara atau daerah tentu diuntungkan dengan selisih harga. Daerah bisa lebih berhemat. Selisih anggaran itu, bisa dimanfaatkan untuk sektor pembangunan lain yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Olehnya itu Herdiman mengajak seluruh element masyarakat serta Aparat Penegak Hukum (APH), untuk ikut memantau pekerjaan tersebut. Harapannya tidak lain agar tercipta iklim kerja yang baik dalam setiap proses tender. Tentunya berdampak pula dengan kualitas pekerjaan dari para kontraktor sehingga hasilnya dapat dirasakan dengan baik oleh daerah.

Berdasarkan penelusuran pada situs di website LPSE Kota Baubau, pengumuman mestinya dilakukan 2 November, namun molor hingga 4 november. Penundaan disebabkan karena adanya penambahan waktu evaluasi administrasi, kualifikasi, teknis dan harga serta penundaan pembuktian kualifikasi. Mega proyek ini, sumber anggarannya dari dana pinjaman sekira Rp 195 miliar.

“Penyesuaian Jadwal Oleh Pokja Pemilihan III, Pokja Masih Membutuhkan Waktu Evaluasi Administrasi, Kualifikasi, Teknis, dan Harga,” begitu tertulis dalam history perubahan jadwal di website LPSE Kota Baubau.

(Adm)

Penulis : Basyarun

[/read]

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com