satunarasi

BerandaBaubauDana Pinjaman Rp 195 Miliar, APH Diminta Aktif Pantau Proses Tender Mega...

Dana Pinjaman Rp 195 Miliar, APH Diminta Aktif Pantau Proses Tender Mega Proyek Jalan Lingkar Kota Baubau

BAUBAU, SATUNARASI.COM – Aparat Penegak Hukum (APH) diminta pro aktif memantau dan mengawasi penggunakan dana pinjaman daerah sekira Rp 195 Miliar yang di dalamnya termasuk anggaran perencaaan dan pengawasan. Anggaran itu diperuntukan buat enam paket pekerjaan, namun proses tender baru empat paket dalam megah proyek jalan lingkar di Kota Baubau.

Praktisi hukum Kota Baubau, Herdiman, SH mengimbau pemerintah Kota Baubau, dalam hal ini panitia lelang agar selektif, profesional dan independen menjalankan tugas sesuai mekanisme berdasar pada ketentuan perundang-undangan. Untuk menjadi pantia lelang menurutnya tidak sembarang. Panitia lelang harus memiliki kompetensi dan sertifikasi, sehingga kerja-kerja yang dilakukan dapat profesional dengan menghindari intervensi pemangku kebijakan.

“Yang perlu menjadi pertimbangan bahwa terjadinya monopoli pekerjaan berdampak pada persaingan yang tidak sehat. Ketika itu muncul, patut diduga terjadi potensi persengkokolan. Indikasi permainan yang bisa saja dilakukan, misal persekongkolan saat evaluasi dan penetapan pemenang tender atau lelang, Hal itu merujuk pada Undang-undang Cipta Kerja,” kata Herdiman pada satunarasi.com, Senin (1/11/2021).

Lebih lanjut menjelaskan, bahwa jumlah peserta tender yang lebih sedikit dari jumlah peserta tender dari lelang sebelumnya. Kemudian harga yang dimenangkan jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari harga tender sebelumnya, oleh perusahaan atau pelaku usaha yang sama. “Jadi ada banyak modus dalam hal monopoli pekerjaan. Ada persekongkolan sesama peserta tender, ada juga yang memasukkan penawaran dalam pekerjaan yang sama, dengan menggunakan perusahaan berbeda, tetapi satu pengusaha,” tutur mantan aktivis Kota Baubau ini.

Selain hal-hal yang telah dijelaskan, Herdiman menambahkan, ada modus modus lainnya seperti, ada indikasi selisih harga yang diajukan pemenang tender dengan harga penawaran peserta lainnya, dengan alasan tidak wajar atau tidak dapat dijelaskan. Karenanya, Ia warning Pokja agar konsisten terhadap metode pengadaan sebagaimana yang tertuang dalam berita LPSE Kota Baubau.

“Yaitu menggunakan harga penawaran terendah dengan sistem gugur. Tentunya dengan pertimbangan penawar terendah mempunyai kualisfikasi perusahaan yang memenuhi syarat baik secara teknis, adminstrasi dan biaya. Dengan sistem penawar terendah itu, negara atau daerah tentu diuntungkan dengan selisih harga. Daerah bisa lebih berhemat. Selisih anggaran itu, bisa dimanfaatkan untuk sektor pembangunan lain yang dibutuhkan masyarakat,” bebernya.

Herdiman mengajak seluruh element masyarakat serta Aparat Penegak Hukum (APH), untuk ikut memantau pekerjaan tersebut. Harapannya agar tercipta iklim kerja yang baik dalam setiap proses tender. Tentunya berdampak pula dengan kualitas pekerjaan dari para kontraktor sehingga hasilnya dapat dirasakan dengan baik oleh daerah.

Pernyataan tersebut, terkait adanya proses tender pada empat pekerjaan yang menggunakan dana pinjaman. Alokasi dana itu meliputi, pekerjaan peningkatan jalan lingkar ruas 2 Waborobo-Batupoopi dengan pagu anggaran Rp 41.660.803.880, Peningkatan jalan lingkar ruas 2 Bukit Asri-Batupoopi dengan paku anggaran Rp 40.423.956.090. Kemudian peningkatan jalan lingkar ruas 2 Sorawolio-Bukit Asri dengan paku anggaran Rp 40.044.499.770 dan peningkatan jalan lingkar ruas Bungi-Sorawolio tahap IV dengan paku anggaran Rp 43.935.903.386.

Sesuai informasi yang dihimpun satunarasi.com pada situs LPSE Kota Baubau, untuk pekerjaan Peningkatan Jalan Lingkar Ruas Bungi – Sorawolio Tahap IV dengan kode tender 3784405, sebanyak 46 perusahaan ikut mendaftar. Dari jumlah itu, hanya 4 perusahaan yang memasukkan penawaran. Di urutan pertama, PT Meutia Segar dengan nilai penawaran Rp. 35.118.139.892,38. Urutan dua PT. Rajasa Tomax Globalindo, nilai penawaran Rp 35.121.463.600,70. Urut tiga, PT Putra Nanggroe Aceh dengan nilai penawaran Rp. 39.908.888.000,00. Urutan empat, PT Garugga Cipta Pratama, nilai penawaran Rp 40.914.746.253,20.

Lalu untuk proyek Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Bukit Asri – Batu Popi dengan kode tender 3795405, ada 42 pendaftar. Yang memasukkan penawaran hanya tiga perusahaan, dimana PT. Cikools Ara Prima menjadi penawar terendah, yakni Rp. 33.409.039.670,97. Menyusul PT. Putra Nanggroe Aceh, nilai penawaran Rp. 33.816.805.000,00 lalu PT. Meutia Segar dengan nilai penawaran Rp. 39.660.263.441,35.

Selanjutnya, paket pekerjaan Peningkatan Jalan Lingkar Ruas 2 Sorawolio – Bukit Asri, kode tender 3794405. Tercatat 42 peminat, namun yang memasukkan penawaran hanya 5 perusahaan. Masing-masing PT. Putra Nanggroe Aceh dengan nilai penawaran terendah Rp 32.816.000.000,00. Lalu PT. Dian Perdana Karsa dengan nilai penawaran Rp. 33.930.528.051,01, PT Fatdeco Tama Waja Rp. 34.430.655.848,17, PT Adta Surya Prima Rp. 35.915.747.103,71 dan PT Merah Putih Alam Lestari Rp. 38.485.366.786,34.

Sementara pada paket proyek Pembangunan Jalan Lingkar Ruas 2 Waborobo – Batu Popi dengan kode tender 3796405, terdapat 41 peminat. Yang memasukkan penawaran hanya dua perusahaan, masing-masing PT. Putra Nanggroe Aceh Rp. 34.930.999.000,00 dan PT Mahardika Permata mandiri Rp. 40.582.485.743,71. Dari empat paket proyek itu, terlihat PT. Putra Nanggroe Aceh ikut secara keseluruhan memasukkan penawaran, dimana pada dua paket, perusahaan itu menjadi penawar terendah.

Guna mengonfirmasi hal ini, Kabag Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Kota Baubau tidak berada di kantornya pada Senin, (01/11/2021). (Adm)

Penulis : Basyarun

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com