satunarasi

BerandaBaubauPemkot Baubau Telusuri Jejak Pahlawan Nasional Sultan Himayatuddin

Pemkot Baubau Telusuri Jejak Pahlawan Nasional Sultan Himayatuddin

BAUBAU, SATUNARASI.COM – Pemerintah Kota Baubau menelusuri jejak perjalanan Pahlawan Nasional Sultan Himayatuddin alias La Karambau.
Dalam upaya itu, Pemkot menggandeng pakar agarjejak gerilya dapat disusun dalam sebuah deskripsi untuk ditawarkan ke Pemerintah Provinsi Sultra maupun komunitas sejarah.

Dr. Roni Muhtar selaku Sekretaris Daerah (Sekda) Baubau menjelaskan, deskrispi rangkaian gerilya Oputa Yi Koo dari Benteng Wolio ke Siontapina masih dalam perumusan. Sejumlah pakar yang dilibatkan dibuatkan SK mulai tim pemerintah, budayawan hingga akademisi.

“Alhamdulillah usaha keras teman-teman yang sudah mengumpulkan data baik dari ingatan kolektif masyarakat lalu dari dokumen tertulis yang lainnya akhirnya bisa disimpulkan secara bersama soal tempat-tempat yang pernah dilewati Sultan Himayatuddin sampai dengan Siontapina,” jelas Roni Muhtar, Rabu (13/2021).

Deskripsi ini akan diusulkan ke Pemerintah Provinsi Sultra dan komunitas sejarah. Selanjutnya tergantung pemerintah provinsi dalam hal pemanfaatan deskripsi tersebut. “Namanya juga tawaran, terserah yang memanfaatkan apakah mau ditambah atau dikurangi. Rencana kami pak wali yang akan serahkan ke gubernur,” katanya.

[expander_maker id=”1″ ]

Pakar akademisi, Dr. La Ode Abdul Munafi M.Si menegaskan, bahwa rute gerilya yang dirumuskan ditambah dengan narasi dari berbagai sumber yang berasal dari sejumlah literarur maupun memori pengetahuan masyarakat. “Itulah yang kita kolaborasi bersama tim sehingga untuk sementara kita menghasilkan rumusan ata deskripsi,” tuturnya.

Masih kata Munafi bahwa terdapat 13 titik yang ditawarkan. Salah satunya gerilya dari benteng keraton. “Di benteng keraton itu ada dua titik dari Lawana Lanto ke Lawana Kampebuni, kemudian ada juga titik di Sorawolio tepatnya di titik Wasinabui kemudian ke titik Lakasuba selanjutnya titik di wilayah Kabupaten Buton, ada beberapa titik. Jadi totalnya ada 13 titik, terakhir di Siontapina melalui rute Pasarwajo,” katanya.

Giat seperti ini kata La Ode Abdul Munafi bahwa sangat bagus dalam rangka semangat nasionalisme. Dari sini generasi saat ini bisa belajar bagaimana pejuang di masa lalu sangat luar biasa gigihnya didalam mempertahankan eksistensi kedalutan. Apalagi, diketahui cucu dan putri Sultan Hiamayatuddin menjadi tawanan VOC untuk dijadikan alat untuk melunakkan hati sang sultan. Namun rupanya itu tidak ada artinya dibanding nilai harkat dan martabat.

“Semua dipertaruhkan untuk kehormatan bangsa. Kita berharap momentum yang bagus ini dijadikan pembinaan karakter bagi generasi muda, terlebih ini bisa menjadi satu program rutin yang bukan lagi skala lokal dan provinsi. Kita harapkan karena ini pahlawan nasional maka harus menjadi kegiatan nasional di masa yang akan datang,” tutupnya. (adm)[/expander_maker]

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

https://www.fapjunk.com https://fapmeister.com